5 Tips Biar Suara Interview Lebih ‘Nendang’ di Video Dokumenter

 




Pernah nonton dokumenter yang visualnya cakep tapi suaranya kayak direkam di kamar mandi? Nah, jangan sampai itu kejadian di project kita.


Sebagus apa pun footage-nya, kalau suara interview-nya cempreng, berisik, atau terlalu pelan, penonton bisa langsung skip. Padahal kontennya deep banget.


aku kasih 5 tips biar suara interview di video dokumentermu lebih nendang


1. Gunakan Mic Eksternal (Please, Jangan Mic HP Lagi 😭)

Kalau bisa, minimal pakai clip-on mic atau shotgun mic. Hasilnya langsung beda jauh dibanding mic internal kamera/HP.


2. Cari Tempat yang Tenang (dan Jangan Anggap Sepele)

Meski pakai mic bagus, kalau lokasi interview berisik, hasilnya tetap kacau. Coba hindari tempat dengan suara lalu lintas, AC bocor, atau musik latar yang gak bisa dikontrol.


3. Rekam Backup Audio (Yes, Double Recording)

Kalau bisa, rekam audio di dua alat. Misalnya satu di kamera, satu lagi di HP pakai aplikasi perekam suara. Just in case satu file rusak atau ada noise mendadak.


4. EQ dan Noise Reduction di Post-Pro

Setelah editing, kasih sedikit sentuhan EQ, hilangkan frekuensi noise (biasanya di bawah 100Hz), dan pakai noise reduction. Tapi jangan over ya, nanti malah suara jadi robot.


5. Jangan Lupa Room Tone

Ambil beberapa detik suara hening di lokasi. Ini bisa kamu pakai buat transisi antar klip supaya gak ada jeda suara yang aneh.


Intinya, audio = separuh cerita. Jangan sampai konten kerenmu gak kedengeran gara-gara suara yang gak dijaga.


Comments